-->

Haruskah Anarkisme Menjadi Budaya Kita?

Entah sejak kapan otak manusia tidak lagi bisa digunakan dengan baik, dan lebih mempercayakan otot untuk menyelesaikan masalah mereka atau mencapai tujuan mereka. Sepertinya anarkisme sudah menjadi hal yang biasa di masyarakat. Anarkisme juga dilakukan oleh mahasiswa, kaum yang katanya intelektual, bukan berarti saya meremehkan atau menghina mahasiswa, memukul rata semua mahasiswa, karna saya juga masih tercatat sebagai mahasiswa fakultas hukum di salah satu universitas di Bali.

Mengapa saya bilang ada mahasiswa yang tidak menggunakan otaknya dengan tepat? Ini didasari atas berita yang menyebutkan bahwa mahasiswa Unpatti merusak dan melempari gedung tempat genset berada. Alasan mahasiswa merusak mesin itu karena mesin sudah usagdan merugikan mahasiswa. Bahkan setelah gagal ketemu rektor, mahasiswa melampiaskan emosi dengan merusak pintu ruangan pembantu rektor dua dan tiga hingga jebol. Setelah selama satu jam puas melampiaskan emosi, kemudian mahasiswa membuat posko di lantai dua gedung rektorat sambil menunggu kedatangan rektor.

Tidak hanya mahasiswa Unpatti, mungkin sudah sering dikabarkan tentang keanarkisan mahasiswa, misalnya merusak fasilitas kampus, mencoret tembok gedung kampus, membakar ban bekas di tengah jalan (ini sudah pasti mengganggu aktivitas pengguna jalan), menggulingkan mobil dan kemudian membakarnya serta tindkan anarkis lainnya.

Teman saya yang seorang aktivis di kampus mengangkapkan sebagian besar aksi anarkis mahasiswa itu dilakukan agar orang atau kelompok yang mereka tuju mendegarkan apa yang mereka sampaikan, menurut pengalamannya terkadang “mereka-mereka” yang kebijakannya dirasa merugikan mahasiswa pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, tidak mau mendengarkan pendapat mereka. Misalnya ketika ada kenaikan SPP dan biaya SKS di kampus saya, para demonstran mencoret mobil dan tembok dengan kata-kata yang tidak senonoh, bahkan ada yang memecahkan kaca segala.

Namun ketika saya bertanya kepada seorang dosen yang pada saat itu menjadi salah satu pembantu dekan, beliau megungkapkan bahwa kenaikan biaya-biaya tersebut tidak lebih untuk kepentingan mahasiswa itu sendiri, untuk menambah fasilitas kampus agar lebih nyaman lagi ketika mengikuti perkuliahan. Beliau juga meyayangkan, mengapa para demonstran hanya melihat dari satu sisi saja, apalagi ketika menyampaikan pendapat seperti bukan orang yang berpendidikan.
Bila menurut saya, demontrasi itu bukan sesuatu yang salah, namun bukan berarti dilakukan dengan anarkis, kan bisa dilakukan dengan aksi damai, tidak dengan anarkisme yang malah membuat rugi, tidak hanya rugi bagi mereka tapi juga mahasiswa lain yang tidak tau menau. Selain itu protes juga bisa melalui tulisan-tulisan, misalnya surat terbuka, melaui surat kabar atau melalui media internet.

Tindakan anarkis tidak hanya dimonopoli mahasiswa, tapi juga beberapa ormas. Seperti yang pernah terjadi pada Jumat, 28 Mei 2010, pukul 15.30, tepat bersamaan perayaan Waisak. Batu ukuran sedang dilempar masa FPI ke arah patung Naga Emas di perempatan dalam kota Singkawang. Masa menyerukan ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR, HANCURKAN PATUNG NAGA, JANGAN MAU ORANG MELAYU DIHINA, KOTA SINGKAWANG INI BUKAN PUNYA ORANG CINA!!. Dalam hitugan detik, polisi yang bertameng mendorong massa yang dipimpin oleh anggota FPI berbaju muslim warna putih lengkap dengan kopiah putih miringnya. Polisi-polisi yang mulai neriakan kata, “TANGKAAAAAP! TANGKAP MEREKA!” Sekali lagi bergemalah kata ALLAHUAKBAR dengan lantang. Bukannya menjadi tergugah mendengar kalimat suci itu dikumandangkan. Hanya ada rasa iba kepada orang yang tega mengumandangkan kalimat suci itu untuk kepentingan yang tidak jelas.

Sore yang masih terik itu menjadikan suasana di persimpangan jalan itu semakin panas. Adegan demo oleh sekitar 20 orang disaksikan ratusan orang. Tanpa ada massa yang kontra terhadap tindakan FPI. Entah mereka apatis, entah mereka takut, entah mereka pasrah. Masyarakat etnis Tionghoa yang memiliki ruko di sekitar jalan itu sudah menutup tokonya, banyak dari mereka yang berdiri di tepi jalan atau di balkon rukonya untuk melihat atraksi konyol. Sungguh menyedihkan karna ada ormas yang mengusung nama agama untuk melakukan penghinaan erhadap kemanusiaan.

Ingin rasanya saya ucapkan “hai FPI, sudahlaaaah…jangan mengurusi masalah etnis, etnis manapun tak layak dibenturkan dengan konflik. Tak hanya konflik etnis Tionghoa. Kasus Poso, Ambon, Sambas, tak bijak jika terus diungkit. Etnis Tionghoa punya hak yang sama sebagai bangsa Indonesia yang berdaulat. Mereka punya hak dan kewajiban yang sama untuk menegakkan NKRI HARGA MATI.”

Tindakan anarkisme, siapapun pelakunya tidak dapat dibenarkan dan juga tidak akan menyelesaian masalah, malah akan menambah masalah. Sudah saatnya kita membicarakan tiap masalah, perbedaan pendapat atau konflik dengan kepala dingin. Antara pihak yang bertikai melakukan diskusi atau musyawarah hingga didapat keputusan yang dirasa sama-sama menguntungkan. Apabila anarkisme ini terus djadikan budaya bangsa, entah kapan kita bisa hidup tenang di Indonesia. Mari bersama-sama memberikan yang terbaik untuk Negara Indonesia tercinta, tanah tumpah darah kita dengan meminimalisasi potensi konflik. Tempat kita dilahirkan dan mungkin kelak kita akan dikebumikan di tanah ini.

Dan pada akhirnya saya meminta maaf apabila dalam tulisan saya kali ini ada yang menyinggung perasaan pihak manapun juga, itu bukanlah tujuan utama saya, saya hanya manusia yang merindukan kedamaian dan ingin menyuarakan sesuatu yang saya rasa tidak pantas untuk dibudayakan, diamana tindakan anarkisme, apapun alasannya sudah tentu akan menimbulkan akibat yang buruk.

Tertulis, Leny Wijayanti


Primbon-arti.blogspot.com | sumber: kompasiana.com

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter